Jumat, 07 Mei 2010

Membaca Fenomena Terkini

Bagi anda yang mengernyitkan dahi tatkala meng-klik blog ini dengan membaca dari judulnya saja "siapa calon raja pajajaran anyar?" amat sangat logis bila spontan berkomentar ngapain hari gini masih nyoba mimpi nostalgia berwacana ngurusin-ngangkatin raja segala, apa kata dunia? Jadi, tidak apa-apa, karena tugas saya hanya mau mengajak anda berlatih terampil berfikir imagineering.

Untuk mengawalinya, saya sarankan anda membaca terlebih dahulu tulisannya Budi Hardiman yang menurut saya pas betul relevannya dan bagus sekali, berjudul Bank Murka (Kompas, 05/05/2010). Sudah?

Nah, setelah anda membaca tulisan tersebut, barulah saya ingin menunjukkan fakta bahwa sudah sejak beberapa tahun terakhir ini - sadar atau pun tidak sadar - ekspose tentang keberadaan raja-raja atau upaya revitalisasi situs-situs kerajaan hadir di berbagai pelosok tanah air dan dimuat di media. Ada rekonstruksi situs Kerajaan Majapahit di Trowulan, keraton Tidore dan Ternate, Siak dan Deli, bom di Masjid Karaton Kasepuhan Cirebon, dan banyak lagi. Fenomena apakah ini? Wallahualam! Bahkan, diam-diam sejak beberapa bulan terakhir ini fenomena tersebut mengerucut, para raja se-Nusantara ini konon mulai merapat saling bersilaturahiim dan berkumpul di berbagai tempat tertentu, di TMII, di Kuningan, dan terakhir pada mangkal stand by di Bandung. Ada apa ini?

Selidik punya selidik, beliau-beliau yang terhormat ini sedang mencari seseorang, sosok kunci, yang kalau ketemu, bakal - otomatis 'ngakses'/'nyambung' - terkuak jugalah tabir pibakaleun eksistensi kerajaan-kerajaan mereka masing-masing dalam konstelasi kesiapan kerajaan-kerajaan Nusantara menjemput zaman (pasca 2012?). Nah lho? Tapi please jangan sewot dulu broer! Ini melulu just only imagineering, you know?

Lalu, siapa sosok yang yang cari-cari dan tunggu-tunggu itu? Dialah Raja Sunda alias Raja Pajajaran Anyar! Logikanya, bila hijab misteri itu terkuak, maka dengan sendirinya bakal terbuka jugalah misteri 4W+1H Kerajaan Sunda Nusantara Parahyangan!

Alhasil, di kalangan dunia kang ouw kasundaan sendiri kini muncul fenomena silih-intip silih-cirian, muncul sosok-sosok yang gamblang atau sebaliknya malu-malu mentahbiskan dirinya haq dan layak jadi Raja Sunda masa depan. Rame pan?

So, sambil menunggu fenomena tersebut lebih mengerucut, mengkristal alias mewujud, saya lebih baik melakukan antisipasi, mengajukan tantangan, mengusulkan saja: apa kriteria calon representatif Raja Pajajaran Anyar itu! Cag!

Rabu, 05 Mei 2010

Kriteria Calon Raja Pajajaran Anyar?

Siapapun boleh mencalonkan dirinya menjadi raja, bila merasa layak, pantas, dan segudang argumentasi lainnya. Misalnya, ada wilayah kerajaannya yang kepala-kepala wilayahnya mendukung dia sebagai kandidat terkuat, ada rakyat yang diyakini bakal memilihnya, dan punya surat sakti dari sang raja sepuh. Itu kalau kerajaannya masih eksis, keratonnya masih kokoh berdiri. Tetapi, yang namanya kerajaan Pajajaran 'kan sudah berabad-abad lalu hilang, jadi ini lalu bagaimana urusannya?

Di sinilah duduk perkaranya!

Seorang calon raja di Kerajaan Pajajaran Anyar harus memenuhi 3 (tiga) kriteria yang yang satu sama lainnya saling melengkapi dan tidak bisa ditawar. Apa saja itu?

1. Dia harus memiliki trah (stamboom) garis keturunan langsung/asli. Mengapa?
2. Dia harus mewarisi ilmu yang mumpuni. Mengapa?
3. Dia harus memiliki dana independen. Mengapa?

Mari kita bahas satu persatu.

1. Dia harus memiliki trah (stamboom) garis keturunan langsung/asli.
Kalau penduduk Jawa Barat ada 40 juta jiwa, dan 30 juta di antaranya urang Sunda, maka mungkin hanya ribuan bahkan ratusan saja generasi masa kini yang merupakan garis keturunan dari Prabu Siliwangi. Dari jumlah tersebut, hanya beberapa yang merupakan garis keturunan langsung/asli, hanya beberapa gelintir saja yang 'dicirian' (baca: ditandai) oleh para karuhun untuk menjadi kandidat/calon kuat raja Pajajaran Anyar yang belum ada juntrungan bentuk fisiknya.

2. Dia harus mewarisi ilmu yang mumpuni.
Bagi siapa saja urang sunda yang sudah membaca Wangsit Siliwangi, ada dua point penting yang patut diingat sebagai "benchmark". Pertama, ucapan Sang Prabu: "tong ngalieuk ka tukang!", dan kedua, proses kepergian beliau yang fenomenal: tilem!
Tentu saja kita harus pisahkan/bedakan antara pengertian apa itu yang disebut ilmu dan apa pula itu yang disebut ilmu pengetahuan.
Kita harus bisa membayangkan perbandingan ilmu dalam konteks yang seperti halnya: pakar ilmu pengetahuan adalah seseorang yang bergelar doktor, spesialis, profesor, tetapi seseorang yang berilmu adalah yang bisa mengobati penyakit aneh-aneh, bisa terbang, bisa berjalan di atas air, bisa menjelma jadi ada dua-tiga sosok yang sama di waktu yang bersamaan di tempat/peristiwa yang berbeda. Disebut makin sakti bila bisa menghilang, bahkan mi'raj, dan lebih sakti lagi bila tatkala seseorang meninggal dunia maka sesaat sesudah dimakamkan malamnya jasadnya ngahiyang (menghilang). Lebih sakti lagi bila seseorang tilem (ngahiyang) justru pada saat diketahui belum meninggal.
Nah, bayangkan betapa tinggi ilmunya tatkala Prabu Siliwangi tilem, bukan hanya dirinya sendiri, tetapi tilem bersama para pengikut setianya bahkan keratonnya. Itulah kesaktian beliau: menggaibkan yang wujud!

Jadi maknanya adalah: barang siapa yang merasa dirinya layak, pantas menjadi Raja Pajajaran Anyar, adalah seseorang yang 'katitisan' (mewarisi kesaktian) Prabu Siliwangi dalam berbuat sebaliknya, yaitu mampu: mewujudkan yang gaib! Apa sajakah? Pertama, bisa membuktikan mampu membangun kembali keraton kerajaan Pajajaran Anyar, yang megah, anggun dan representatif, di tempat yang semestinya, dan keduanya bisa membuktikan dirinya terpilih/didaulat oleh rakyat Pajajaran Anyar karena rasa terima kasih mereka kepada dia yang telah berbuat karya nyata mampu mengangkat mereka dari kemiskinan dan kebodohan, terasa bantuannya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka, dan terasa sugestinya meningkatkan harkat, derajat dan kehormatan peri kehidupan mereka.

3. Dia harus memiliki dana independen.
Membangun keraton tentu bukan membangun rumah. Jauh sekali bedanya. Tentu lebih akbar dan agung betapa pun rumahnya lux atau halamannya luas. Demikian pula membangun perekonomian rakyat hingga bisa maju, modern dan mandiri tentu bukan hanya berupa ritual memberi santunan bagi yang terkena musibah, atau menyumbang panti asuhan atau masjid atau pun mendirikan dapur umum tatkala ada musibah. Tentu lebih luas dan lebih sistemik dari itu, mendirikan Bank Desa semacam Grameen Bank beserta jaringan pelayanan modal dan technical know-how bagi para petani-pedagang-pelaut (nelayan). Nah, semuanya itu tentu saja perlu dana yang amat besar, bukan?
Alangkah sangat tidak lucunya seseorang yang merasa dirinya layak dan pantas menjadi Raja Pajajaran Anyar bila untuk membangun keraton dan memodali perekonomian rakyat harus menunggu bantuan Pemerintah Indonesia atau Pemerintah Propinsi Jawa Barat, bahkan lebih fatal bila hanya untuk upacara seremonial pelantikan raja pun menunggu kucuran dana sponsor.
Seorang calon Raja Pajajaran Anyar harus terbukti merupakan rangkaian atau bagian dari asset dana dinasti yang amat besar, dlp. punya akses dan channeling dan/atau menjadi bagian tim pemegang dana amanah dunia.

Dari ketiga kriteria tersebut di atas (yaitu trah, ilmu, dan dana) maka mudah-mudahan sekarang menjadi jelas, mengapa sosok calon Raja Pajajaran Anyar yang asli dan haq sangat ditunggu-tunggu oleh para raja se-Nusantara yang berkumpul di Bandung, dan dicari-cari oleh para ponggawa Bretton Woods di lembaga-lembaga keuangan dunia dan para pemimpin negara-negara UE yang nyaris terseret mengalami krisis karena nyoba menolong rekannya Yunani yang hampir bangkrut.

Maka menjadi jelas juga, walaupun seseorang yang merasa dirinya layak menjadi Raja Pajajaran Anyar itu jelas-jelas punya trah, dan juga berilmu, tapi kalau seseorang itu tidak bisa punya otoritas dan akses ke dana amanah, maka percuma saja. Sebaliknya pun begitu, bisa saja seseorang yang tinggal di tatar sunda orangnya sekaya George Soros atau Bill Gates misalnya, tapi kalau tidak/bukan trah dan masih tembus santet bahkan takut hantu, ya sama juga bo'ong! Silahkan mundur teratur dan mawas diri saja! Dan jangan lanjutkan modus operandi gaya PO (baca: proyek ongkos) itu!

Salam.